Semua Pihak Diminta Percaya Terhadap Penyelenggara Pemilu

Nasional

Pemilu tahun 2019 ini memang telah diprediksi akan menjadi pemilu dengan persaingan yang sangat sengit. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan pemilu kali ini melibatkan pilpres (pemilu presiden) dan juga pileg (pemilu legislatif) di provinsi dan daerah. Pemilu- pemilu yang sebelumnya belum pernah terjadi pemilu serempak seperti tahun ini, maka jelaslah para pengamat memprediksikan bahwa pemliu 2019 akan menjadi pemilu yang sangat ramai.

Menariknya, dalam pemilu presiden ini hanya melibatkan dua pasangan calon presiden yang mendaftar pilpres namun ternyata respon masyarakat begitu besar dan sangat luar biasa. Berbagai hal terjadi sebelum pencoblosan, banyak informasi-informasi hoaks yang menyebar di masyarakat sehingga menimbulkan kebencian antara pendukung paslon capres 01 dan 02. Luar biasa memang, media sosial juga menjadi sarana penyebaran hoaks di masyarakat sehingga pada kampanye pilpres kali ini sangat terlihat sekali ketegangan dan perbedaan pandangan diantara para pendukung kedua capres. Padahal pada pilpres-pilpres sebelumnya justru tidak terjadi ketegangan dan menimbulkan permusuhan antar pendukung paslon.

Semua Pihak Diminta Percaya Terhadap Penyelenggara Pemilu

Ketegangan dan perbedaan pendapat antara kedua kubu telah diprediksi pula setelah proses pemilihan terjadi. Memang benar, wajar bila setiap paslon capres ingin memperoleh kemenangan karena begitu besar dan banyak sekali hal-hal yang sudah dikorbankan demi keberlangsungan kampanye dan menarik para simpatisan. Baru hasil quick count atau perhitungan cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei, semua hasilnya memenangkan paslon capres Jokowi-Ma’ruf (01).

Namun ternyata beberapa kejadian terjadi pada hari-hari selanjutnya, dimana pasangan capres nomor urut 02 (prabowo-sandi) dan para pendukungnya melihat banyak sekali kecurangan-kecurangan yang terjadi pada pemilu kali ini yang justru merugikan pihak paslon 02. Prabowo-sandi sempat mendeklarasikan kemenangan mereka sebesar 62% menurut hasil real count yang dilakukan oleh lembaga survei dari pihak BPN (badan pemenangan nasional). Jelas ini berbeda dengan hasil mayoritas lembaga survei pemilu yang ada di Indonesia ini.

Kedua pasangan calon capres dan cawapres menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan terus mengawal perhitungan suara hasil pemilu. Naun, dari informasi-informasi diatas ternyata menimbulkan keresahan dan ketegangan di lapisan masyarakat. Akhirnya, muncullah pihak-pihak yang tidak percaya dan tidak mendukung serta mengapresiasi penyelenggaraan pemilu yang dilakukan oleh KPU.

KPU Memastikan Tidak Melakukan Kecurangan

Beberapa alasan mengapa banyak pihak yang tidak percaya terhadap keberhasilan penyelenggaraan pemilu yang dilakukan oleh KPU, yaitu:

  1. KPU dianggap telah gagal dalam hal pendistribusian surat suara terutama ke daerah-daerah terpencil. Hal ini menyebabkan ada beberapa daerah yang melakukan pemilu bukan pada tanggal 17 April melainkan pada tanggal 18 April karena surat suara baru sampai ke daerah tersebut.
  2. Ada beberapa surat suara yang diduga telah rusak dan sudah dalam keadaan sudah dicoblos sehingga kemenangan mutlak tenyata pada salah satu paslon capres. Hal ini masih hanya bersifat dugaan beberapa pihak saja.
  3. Ada banyak tragedi yang terjadi sebelum dan setelah pencoblosan tanggal 17 April, yaitu pembakaran surat suara yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang terlalu fanatik terhadap salah satu pasangan calon presiden tertentu sehingga KPU dianggap sangat lalai dalam melakukan pengawasan dan keamanan saat pemilihan.
  4. Banyak yang menganggap KPU telah melakukan beberapa kecurangan dan dianggap tidak netral, terutama menurut beberapa pihak paslon capres dan cawapres nomor urut 02 lah yang paling banyak dirugikan padahal semua itu adalah info-info yang salah dan sangat menyesatkan jika disebarkan kepada masyarakat.
  5. Memang terjadi sedikit kesalahan saat entry data rekapitulasi hasil pemilu kedalam sistem perhitungan suara (situng). Padahal ketua KPU pusat, Arief Budiman membantah pihaknya melakukan kecurangan. Beliau menegaskan bahwa tidak ada niatan curang dari pihak KPU. Jika pun terdapat kesalahan dalam input data, maka kesalahan itu adalah murni human error karena kurangnya ketelitian saat menginput.

Melihat beberapa pemberitaan dan penyebaran informasi dari beberapa pihak yang tidak mengapresiasi pihak KPU, sudah jelas hal itu menimbulkan banyak masyarakat pula yang tidak yakin dan percaya terhadap kerja yang dilakukan KPU. Padahal pihak dunia telah banyak mengapresiasi pemliu yang dilakukan di Indonesia ini terutama untuk KPU, menurut mereka tidak mudah melakukan pemilu secara serentak dalam satu hari untuk melakukan pilpres dan pileg secara bersamaan dengan jumlah TPS sebanyak delapan ratus ribu lebih TPS dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Menurut komisaris KPU, menegaskan bahwa KPU telah melakukan banyak usaha untuk melancarkan proses pemilu 2019 ini dan selalu mengontrol dan mengawasi jalannya pemilu dari awal hingga akhir. Berhasil mendistribusikan surat suara ke delapan ratus ribu lebih TPS, dan menurutnya bahwa hanya sekitar 1000 an TPS yang mengalami hambatan saat pendistribusian karena medan lokasi yang kurang mendukung sehingga akhirnya telat melakukan pemilu.